BANDA ACEH — Puluhan stakeholder sepakbola yang menamakan diri Tim Penyelamat PSSI Aceh resmi melayangkan aduan ke KONI Aceh, Rabu (26/8/2026). Audiensi tersebut diterima langsung oleh Ketua Harian KONI Aceh, Kennedi Husen, didampingi Wakil Ketua I T Rayuan Sukma, Sekretaris Umum Akhyar ST, dan Amin Said selaku bidang hukum.
Kedatangan mereka membawa tiga persoalan utama: protokol kongres yang dianggap cacat prosedur, pungutan biaya pendaftaran klub yang dinilai membebani, serta minimnya transparansi pengurus dalam mengambil keputusan strategis.
Kongres Biasa Dinilai Dipersiapkan Secara Sepihak
Salah satu anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Aceh, Muslim SE yang akrab disapa Keusyik Muslem, mengungkapkan kejanggalan dalam persiapan Kongres Biasa Pemilihan PSSI Aceh 2026. Ia mengaku tidak pernah diundang dalam rapat penting untuk memutuskan agenda tersebut, padahal dirinya merupakan bagian dari Exco.
"Tahu-tahunya, sudah ada surat ke PSSI Pusat untuk meminta permohonan rekomendasi Pelaksanaan Kongres Biasa," ungkap mantan Ketua Askab PSSI Aceh Besar ini.
Keusyik Muslem menyebut, dalam lampiran surat bernomor 077/PSSI-ACEH/VIII/2026, seluruh tahapan kongres sudah tercantum termasuk jadwal pendaftaran bakal calon ketua periode 2026-2030. Namun saat para kandidat mencoba mendaftar sesuai jadwal yang ditentukan, sekretariat justru tidak melayani.
"Ketika kami mendaftar sesuai jadwal yang ditentukan, malahan sekretariatnya tidak buka. Ini akal-akalan dari Ketua Asprov PSSI Aceh Nazir Adam," tegasnya.
Legenda Persiraja Sorot Pungutan Puluhan Juta ke Klub
Legenda Persiraja, Nasir Gurumud, mengarahkan kritiknya pada pola pembinaan yang dinilai keliru. Ia mengaku kerap menerima keluhan dari pengurus klub di berbagai daerah terkait pungutan biaya pendaftaran yang mencapai puluhan juta rupiah setiap kompetisi bergulir.
"PSSI itu harus melakukan pembinaan berjenjang, tidak boleh mencari uang dari klub-klub dengan mengutip uang pendaftaran puluhan juta saat kompetisi bergulir," ujar mantan petinggi Persiraja dan Aceh United FC ini.
Ia bahkan memastikan pengurus PSSI Aceh di bawah kendali Nazir Adam hanya berharap dari klub, bukan mencari sponsor untuk pembinaan sepakbola Aceh. Hal senada disampaikan mantan Exco PSSI Aceh, Ade Zulfadli, yang juga menjabat Presiden Persip Pase. Ia berharap KONI Aceh menjadi jembatan untuk membenahi organisasi.
"Pemangku kepentingan harus segera turun tangan demi sepakbola Aceh yang lebih baik di masa depan," kata Ade, yang pernyataannya dibenarkan tokoh sepakbola Bireuen, Zaini Yusuf, dan Syech Muliadi.
KONI Aceh: Kami Tak Punya Kapasitas Intervensi
Menanggapi aspirasi tersebut, Ketua Harian KONI Aceh, Kennedi Husen, menegaskan pihaknya akan menampung seluruh keluhan dan memprosesnya sesuai mekanisme. Namun ia mengingatkan bahwa KONI tidak memiliki kapasitas untuk mengintervensi PSSI karena organisasi tersebut memiliki statuta sendiri.
"Yang paling penting semua proses itu harus berjalan sesuai aturannya," ujar Kennedi, yang pernyataannya diamini T Rayuan Sukma dan Akhyar ST.
KONI Aceh berharap seluruh rangkaian kongres bisa berlangsung secara terbuka dan dapat diketahui publik. Langkah ini dinilai krusial untuk mengembalikan kepercayaan para pelaku sepakbola di Aceh yang selama ini merasa diabaikan dalam proses pengambilan keputusan organisasi.