JAKARTA — Momen kelulusan dari Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan 66 Tahun 2026 menjadi penanda tanggung jawab baru bagi tiga aparatur sipil negara asal Aceh. Mereka telah menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan kepemimpinan tersebut dan menerima sertifikat yang diserahkan langsung oleh Menteri PAN-RB di Jakarta, Kamis (3/8/2026).
Ketiganya datang dari latar belakang institusi dan wilayah asal yang berbeda-beda. Namun, pencapaian ini membuktikan bahwa putra daerah mampu dipercaya mengemban amanah di posisi strategis tingkat nasional.
Siapa Tiga Putra Aceh yang Lulus PKN Tingkat I?
Dr. Teuku Rahman, putra Trieng Gadeng, Pidie Jaya, saat ini menjabat sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Manajemen Kepemimpinan pada Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejaksaan Agung RI. Sebelumnya, ia sempat dipercaya sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Papua Barat.
Aulia Sofyan, Ph.D., asal Bireuen, kini menjadi Kepala Pusat di Sekretariat Jenderal DPR RI. Kariernya dimulai dari Pemerintah Provinsi Aceh, termasuk pernah menjabat Kepala Dinas dan Penjabat Bupati Bireuen, sebelum meniti karier di lembaga legislatif nasional.
Adapun Zulfirman, SE, M.Si., putra Meulaboh, Aceh Barat, dipercaya sebagai Kepala Biro Perencanaan, Keuangan dan Umum Universitas Teuku Umar (UTU). Pengalamannya membentang dari Kementerian Keuangan, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias, hingga Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat.
Bekal Baru untuk Panggung Kepemimpinan Nasional
PKN Tingkat I tidak sekadar menjadi agenda pendidikan formal. Lewat program ini, para pemimpin dari berbagai kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah saling bertukar pengalaman untuk mempertajam kemampuan memimpin perubahan.
Wawasan kebangsaan, jejaring strategis, serta gagasan inovatif yang lahir selama pelatihan menjadi modal untuk diimplementasikan di organisasi masing-masing. Bagi ketiganya, kelulusan ini adalah awal dari pengabdian yang lebih besar di tingkat nasional.
Dari Pidie Jaya, Bireuen, hingga Aceh Barat, mereka membawa semangat yang sama: mengharumkan nama Aceh melalui karya dan kepemimpinan untuk Indonesia. [*]