ACEH — Paparan abu vulkanik yang menyebar ke sejumlah kawasan tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga mengubah permukaan jalan menjadi arena berbahaya bagi pengendara sepeda motor. Partikel abu yang menutupi aspal disebut bertindak seperti lapisan pasir halus yang membuat ban kehilangan kontak optimal dengan jalan.
"Abu vulkanik yang menutup permukaan jalan dapat bertindak seperti lapisan pasir halus, sehingga grip ban turun drastis dan kendaraan lebih mudah mengalami selip, terutama ketika melakukan pengereman atau menikung," kata Jusri dalam keterangan yang dikutip Antara, Senin (7/9).
Traksi Motor di Aspal Berabu: Kenapa Mudah Tergelincir?
Menurut Jusri, sebaran abu vulkanik secara langsung menurunkan traksi antara ban dan aspal. Lapisan partikel halus ini bekerja seperti "bantalan" yang mencegah ban mencengkeram permukaan jalan secara langsung.
Akibatnya, titik kontak ban menjadi tidak stabil. Kondisi ini paling berbahaya ketika pengendara melakukan manuver seperti menikung dengan sudut kemiringan besar atau mengerem mendadak, yang berpotensi membuat roda terkunci dan motor oleng.
Bukan Cuma Jalan Licin, Gangguan Mata dan Pernapasan Juga Mengintai
Selain ancaman dari bawah (traksi ban), pengendara juga menghadapi bahaya dari atas. Abu vulkanik yang beterbangan bisa masuk ke dalam helm dan mengganggu konsentrasi penglihatan pengendara.
"Partikel abu yang terhirup juga berpotensi mengganggu saluran pernapasan," ujar Jusri. Kombinasi antara pandangan yang tidak jelas dan refleks mengusap mata saat berkendara menjadi pemicu terjadinya kecelakaan fatal di tengah kondisi darurat seperti ini.
Kapan Harus Berhenti dan Tidak Melanjutkan Perjalanan?
Jusri menegaskan bahwa keputusan paling defensif dalam situasi abu tebal bukanlah mencari cara untuk tetap melaju, melainkan memutuskan untuk berhenti. Jika permukaan jalan sudah berubah warna atau teksturnya tertutup abu cukup tebal, pengendara disarankan mencari lokasi aman dan menunggu hingga kondisi membaik.
"Dalam kondisi abu vulkanik sedang tebal, keputusan Road Safety yang paling defensif bukan 'bagaimana tetap berkendara', tetapi 'kapan harus berhenti dan tidak melanjutkan perjalanan'," tegas Jusri.
Prinsip Slow, Smooth, Straight untuk yang Terpaksa Melaju
Bagi pengendara yang perjalanannya tidak bisa ditunda, Jusri menganjurkan penerapan prinsip slow, smooth, straight. Kecepatan harus dikurangi secara signifikan untuk memberi waktu reaksi lebih panjang terhadap kondisi jalan yang berubah-ubah.
Hindari pengereman dan akselerasi mendadak yang bisa memutus traksi ban. Saat menikung, jangan mengambil sudut kemiringan besar — tegakkan motor dan kurangi kecepatan sebelum masuk tikungan.
Perlengkapan Wajib dan Jarak Aman Saat Terjang Hujan Abu
Pengendara yang memaksa melanjutkan perjalanan wajib menggunakan masker atau respirator untuk menyaring partikel halus, serta pelindung mata yang tertutup rapat agar abu tidak masuk dan mengganggu visibilitas.
Jaga jarak lebih jauh dari kendaraan di depan dibanding kondisi normal. "Kendaraan lain dapat melakukan pengereman atau manuver secara tiba-tiba akibat jarak pandang yang terbatas," pungkas Jusri. Ruang aman yang lebar menjadi satu-satunya buffer jika pengendara di depan kehilangan kendali di atas lapisan abu vulkanik.