ACEH — Pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 11,5 kilowatt peak (kWp) itu terintegrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 32 kilowatt hour (kWh). Sistem ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan listrik di atas kapal selama berlayar, sehingga mesin diesel tidak harus terus menyala.
Menurut Direktur Utama Pertamina NRE John Anis, proyek ini tidak sederhana. "Hasilnya dapat kita lihat hari ini, yaitu pengurangan penggunaan bahan bakar diesel secara signifikan dan kontribusi nyata terhadap pengurangan emisi karbon," ujarnya dalam keterangan pers, Jumat (12/6/2026).
Dari sisi ekonomi, efisiensi solar sebanyak 28 kiloliter per tahun setara dengan penghematan biaya operasional sekitar Rp365 juta. Angka itu belum termasuk potensi perawatan mesin diesel yang lebih rendah karena beban operasi berkurang.
Dampak Lingkungan dan Langkah Selanjutnya
Selain menghemat biaya, proyek percontohan ini juga berkontribusi menurunkan emisi karbon sebesar 79,2 ton setara CO? per tahun. Capaian itu menunjukkan bahwa teknologi surya tidak hanya relevan untuk daratan, tapi juga bisa diadopsi di kapal-kapal operasional milik Pertamina.
Pertamina NRE sendiri merupakan subholding Power and New Renewable Energy di grup Pertamina. Proyek PLTS di kapal ini menjadi bukti awal bahwa transisi energi bisa dilakukan di sektor yang selama ini paling boros bahan bakar fosil: transportasi laut. Ke depan, jika hasil uji coba memuaskan, teknologi ini berpotensi diperluas ke armada kapal lainnya di lingkungan Pertamina.