PIDIE JAYA — Di tengah hiruk pikuk perayaan HUT ke-19 Kabupaten Pidie Jaya, sebuah kisah inspiratif justru muncul dari panggung lomba tartil. Muhammad Lutfi, siswa tunanetra yang baru duduk di bangku kelas 2 SDLB Merdu, berhasil memukau dewan juri dan ratusan hadirin dengan bacaan Al-Qur’annya. Ia dinobatkan sebagai Juara Favorit, sebuah pencapaian yang mengundang decak kagum dan tepuk tangan meriah.
Metode Belajar Unik Sang Juara: Mendengar Berulang dan Alat Murattal
Di balik prestasi gemilang tersebut, tersimpan perjuangan panjang yang tak biasa. Ayah Lutfi, Burhanuddin, menceritakan bahwa putranya belajar Al-Qur’an melalui metode mendengarkan bacaan ayat suci secara berulang-ulang setiap hari. Tanpa bisa melihat, Lutfi mengandalkan indra pendengarannya yang tajam.
“Proses hafalannya juga dibantu menggunakan alat murattal Al-Qur’an,” ujar Burhanuddin. Alat ini memudahkan Lutfi untuk mengenali dan mengingat setiap ayat yang didengarnya tanpa harus melihat teks. Semangat belajar dan kecintaannya terhadap Al-Qur’an membuat Lutfi mampu menghafal sejumlah surah dan tampil percaya diri di hadapan publik.
Dari Panggung Lomba ke Panggung Apresiasi Bupati
Penampilan Lutfi bukan sekadar memenangkan lomba. Momen tersebut dinilai sejalan dengan semangat HUT ke-19 Pidie Jaya dan nilai-nilai Hijrah yang terkandung dalam peringatan 1 Muharram, yakni semangat perubahan, keteguhan, serta ikhtiar meraih masa depan yang lebih baik. Bupati Pidie Jaya yang hadir langsung memberikan apresiasi tinggi atas prestasi Lutfi.
Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya menegaskan komitmennya untuk terus memberikan ruang dan perhatian kepada anak-anak berprestasi, termasuk penyandang disabilitas. Kisah Lutfi menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi dan memberikan inspirasi bagi banyak orang.
Harapan Pemkab: Pendidikan Karakter dan Masyarakat Inklusif
Pemerintah daerah berharap kisah perjuangan Lutfi dapat menjadi motivasi bagi generasi muda untuk terus mencintai Al-Qur’an, memperkuat pendidikan karakter, serta tidak menyerah menghadapi keterbatasan. Komitmen ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang inklusif, religius, dan berdaya saing di masa depan di Bumi Japakeh.