BANDA ACEH — Transformasi PT Pembangunan Aceh (PEMA) dalam satu tahun terakhir menuai sorotan positif dari akademisi. Fokus manajemen pada pembenahan internal dinilai sebagai langkah strategis membangun fondasi perusahaan yang sehat.
Dr. Usman Lamreung, M.Si, dosen Universitas Iskandar Muda, mengapresiasi pendekatan realistis Direktur Utama PEMA, Mawardi. Alih-alih mengejar proyek besar, perusahaan justru memprioritaskan konsolidasi organisasi.
Mengapa Penataan Internal Lebih Prioritas?
Menurut Usman, persoalan utama yang membelit banyak BUMD bukan minimnya peluang usaha, melainkan lemahnya tata kelola dan intervensi politik. “Penataan organisasi, evaluasi lini bisnis, penguatan standar operasional, hingga upaya membangun budaya kerja yang lebih profesional merupakan fondasi yang harus dibangun terlebih dahulu,” ujarnya kepada Dialeksis, 2 Juli 2026.
Ia menegaskan, tanpa sistem yang kuat, ekspansi justru berpotensi menjadi beban perusahaan. “Perubahan yang terjadi bukan sekadar kosmetik, tetapi transformasi dari dalam perusahaan,” tambahnya.
Energi Jadi Andalan Baru PEMA
Fokus PEMA pada industri energi dinilai sebagai pilihan logis. Aceh memiliki sejarah panjang sebagai daerah penghasil energi nasional, mulai dari era Arun hingga potensi besar di kawasan Andaman.
“Cadangan gas yang ditemukan di Andaman membuka peluang besar. Pertanyaannya, apakah Aceh sudah siap mengambil manfaat maksimal dari potensi tersebut?” kata Usman. Ia menekankan PEMA harus menjadi kendaraan utama pemerintah daerah dalam rantai nilai industri energi.
Diversifikasi Usaha ke Kopi, Sulfur, dan Telekomunikasi
Selain energi, PEMA mulai melakukan diversifikasi usaha ke sektor kopi, sulfur, dan telekomunikasi. Langkah ini dinilai sebagai strategi memperluas sumber pendapatan agar tidak bergantung pada satu sektor.
Meski demikian, Usman mengingatkan diversifikasi harus dilakukan hati-hati. “Keberanian melakukan ekspansi harus selalu dibarengi perhitungan matang. Banyak BUMD gagal karena terlalu cepat memperluas usaha tanpa kesiapan memadai,” tegasnya.
PEMA sebagai Simbol Harapan Ekonomi Aceh
Usman menilai PEMA bukan sekadar entitas bisnis, melainkan instrumen strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi Aceh. “Kehadirannya menjadi simbol harapan bahwa Aceh mampu membangun kekuatan ekonominya sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan PEMA akan berdampak langsung terhadap masa depan perekonomian daerah yang masih sangat bergantung pada dana transfer pusat. Proses transformasi korporasi harus dipahami sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar laba satu tahun.