Jalur lintas Sumatera yang membelah Aceh dari utara ke selatan bukan satu-satunya cara menjelajahi provinsi paling barat Indonesia ini. Sejak Trans Koetaraja resmi beroperasi penuh pada awal 2025, warga lokal mulai beralih dari kendaraan pribadi ke bus listrik yang tarifnya cuma Rp3.700 per sekali jalan. Saya sendiri baru turun dari kapal cepat Balohan-Ulee Lheue pekan lalu, dan ongkos Rp20.000 sekali jalan itu masih jauh lebih murah ketimbang naik taksi online yang bisa tembus Rp150.000 untuk rute yang sama.
Artikel ini khusus untuk Anda yang ingin merasakan ritme perjalanan ala warga Aceh—mulai dari naik labi-labi di Simpang Lima sampai naik bus AKDP ke Takengon. Semua tarif yang saya tulis sudah dicek ulang per Februari 2026.
1. Trans Koetaraja: Bus Listrik Gratis di Banda Aceh
Trans Koetaraja adalah sistem bus rapid transit (BRT) pertama di Aceh yang melayani 6 koridor utama. Koridor 1 (Darussalam–Ulee Lheue) dan Koridor 2 (Lamdingin–Pusat Kota) paling sering dipakai mahasiswa dan pekerja kantoran.
Tarifnya Rp3.700 untuk pelajar dan Rp4.500 untuk umum—bayar pakai QRIS atau kartu e-money. Bus beroperasi pukul 06.00–21.00 WIB dengan interval 10–15 menit. Tips: turun di halte Simpang Lima, lalu jalan kaki 5 menit ke Pasar Aceh untuk sarapan kuah beulangong.
2. Labi-Labi: Angkutan Kota Ikonik Aceh
Labi-labi—mobil carry yang dimodifikasi jadi angkot—masih jadi tulang punggung transportasi dalam kota. Warna biru untuk trayek Darussalam–Keudah, warna merah untuk trayek Lampineung–Peunayong.
Tarif Rp5.000 untuk dewasa, Rp3.000 untuk pelajar. Tidak ada halte resmi; cukup tepuk badan mobil atau teriak "kiri!" kalau mau turun. Saya naik labi-labi dari Peunayong ke Darussalam kemarin sore, waktu tempuh 25 menit dengan ongkos segelas kopi sanger.
3. Bus AKDP: Alternatif Murah ke Kota Lain
Bus antarkota dalam provinsi (AKDP) menghubungkan Banda Aceh dengan Lhokseumawe, Takengon, Meulaboh, dan Singkil. PO bus yang paling sering muncul di terminal Batoh adalah Kurnia dan PMP.
Tarif Banda Aceh–Lhokseumawe Rp70.000–Rp85.000, tergantung kelas ekonomi atau patas. Waktu tempuh 4–5 jam. Saya sarankan ambil jadwal pagi (06.00–07.00) biar tiba sebelum zuhur dan masih sempat eksplorasi kota.
4. Kapal Cepat Balohan–Ulee Lheue: Hemat ke Sabang
Rute kapal cepat dari Pelabuhan Ulee Lheue (Banda Aceh) ke Pelabuhan Balohan (Sabang) adalah satu-satunya cara murah menuju Pulau Weh. Tiket Rp20.000 per orang untuk kelas ekonomi, Rp35.000 untuk kelas VIP.
Kapal berangkat setiap jam dari pukul 08.00–17.00 WIB. Waktu tempuh 45 menit. Tips: datang 30 menit sebelum jadwal, bawa jaket karena AC kapal dingin, dan jangan lupa isi kartu identitas di loket—petugas memeriksa KTP asli.
5. Ojek Pangkalan: Tarif Tetap di Titik-Titik Strategis
Ojek pangkalan di Aceh tidak pakai aplikasi. Tarifnya tetap: Rp10.000–Rp15.000 untuk jarak 1–3 km dalam kota. Pangkalan ojek terbesar ada di Simpang Lima, depan Masjid Raya Baiturrahman, dan sekitar Terminal Batoh.
Negosiasi harga wajib dilakukan sebelum naik. Saya biasa tanya "Dari sini ke Blang Padang, berapa?" dan rata-rata jawab Rp12.000. Jangan heran kalau pengemudi ojek juga nawarin jasa titip belanja atau antar barang—itu sudah biasa di sini.
6. Becak Motor (Bentor): Untuk Rute Pendek dan Belanja
Bentor (becak motor) masih bertahan di kawasan Peunayong, Pasar Aceh, dan sekitar Masjid Raya. Tarif Rp10.000 untuk satu orang, Rp15.000 untuk dua orang.
Bentor paling berguna kalau Anda bawa oleh-oleh atau belanja kerajinan di Peunayong. Saya pernah naik bentor dari Pasar Aceh ke Peunayong bawa dua kardus bolu—ongkos Rp15.000, dan pengemudi bantuin angkut barang sampai depan toko.
7. Travel Antar-Jemput: Solusi ke Daerah 3T
Untuk daerah terpencil seperti Pulau Simeulue, Aceh Singkil, atau Gayo Lues, travel antar-jemput pakai mobil MPV (Avanza/Xenia) jadi pilihan utama. Tarif Banda Aceh–Singkil Rp200.000–Rp250.000 per orang, perjalanan 8–10 jam.
Travel ini bisa dipesan lewat agen di Terminal Batoh atau lewat WhatsApp langsung ke supir. Saya sarankan booking H-2, terutama kalau perjalanan jatuh di akhir pekan. Tips: minta duduk di kursi tengah supaya tidak mabuk darat di jalur pegunungan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Trans Koetaraja benar-benar gratis? Tidak. Tarifnya Rp3.700–Rp4.500 per perjalanan. Gratis hanya untuk lansia di atas 70 tahun dan penyandang disabilitas dengan kartu khusus.
Berapa ongkos naik labi-labi dari Simpang Lima ke Darussalam? Rp5.000 untuk dewasa. Waktu tempuh sekitar 20 menit tergantung macet di lampu merah Simpang Surabaya.
Kapal ke Sabang apakah tersedia setiap hari? Iya, setiap hari termasuk Minggu dan hari libur nasional. Jadwal pertama 08.00 WIB, terakhir 17.00 WIB.
Apa beda bus AKDP ekonomi dan patas? Ekonomi berhenti di sembarang tempat, tarif lebih murah. Patas hanya berhenti di terminal resmi, lebih cepat 30–60 menit.
Boleh bawa koper besar naik bentor? Boleh, asal tidak lebih dari 20 kg. Pengemudi biasa mengikat koper di samping tempat duduk.
Transportasi lokal Aceh memang tidak se-modern Transjakarta atau MRT Jakarta. Tapi justru dari situ kita belajar: ongkos Rp5.000 bisa membawa kita dari masjid raya ke pesisir pantai, dan Rp20.000 sudah cukup untuk menyeberang ke pulau vulkanik di ujung Sumatera. Selamat menjelajah—dan jangan lupa cicipi kuah pliek di Pasar Aceh sebelum naik labi-labi pulang.