ACEH — Dua kekuatan sepak bola dunia, Inggris dan Argentina, kembali diingatkan pada rivalitas lintas benua yang lahir dari politik, sejarah, dan momen ikonik di lapangan hijau. Diego Maradona dengan "Tangan Tuhan" dan tendangan Beckham yang naas hanyalah sebagian kecil dari narasi besar yang terus hidup. Bagi para pemain yang terlibat, laga-laga ini adalah kenangan yang tak tergantikan.
Simeone Akui Beckham Hanya Korban Pers yang Kejam
Diego Simeone, kini pelatih garang Atletico Madrid, buka suara soal perannya dalam kartu merah Beckham di Piala Dunia 1998. Saat itu, Simeone jatuh setelah terkena sentuhan ringan Beckham, yang berujung pada kartu merah langsung bagi pemain Inggris itu.
"Itu bukan sepenuhnya salah saya. Wasit juga punya peran," kata Simeone dalam wawancara tahun 2002. Ia mengaku prihatin dengan perlakuan media Inggris yang menjadikan Beckham sebagai kambing hitam tunggal kekalahan timnya. "Dia hanya membuat kesalahan, reaksi insting. Tidak adil semua kesalahan ditimpakan padanya," tambahnya.
Menariknya, puluhan tahun kemudian, Simeone dan Beckham justru berfoto bersama di Miami. "Bertemu teman lama," tulis Beckham di Instagram, menunjukkan bahwa permusuhan di lapangan telah lama sirna.
Gol Michael Owen yang Membungkam Argentina
Di balik kekalahan Inggris di babak adu penalti, ada satu momen yang tetap dikenang: gol solo Michael Owen. Saat itu, pemain berusia 18 tahun itu menerima bola dari Beckham, lalu berlari dari garis tengah, melewati dua pemain Argentina, dan melepaskan tembakan akurat ke sudut gawang.
Glenn Hoddle, pelatih Inggris saat itu, mengaku terkejut melihat kecepatan Owen. "Saat Ayala berhadapan dengannya, dia jelas tidak tahu seberapa cepat Michael," ujar Hoddle. Owen sendiri mengaku baru sadar ada peluang gol setelah melewati pemain pertama. "Saya melihat Ayala terisolasi, dan saya tahu ini kesempatan untuk melepaskan tembakan," kenang Owen.
Simeone mengakui Argentina lengah. "Dia kejutan bagi kami. Kami belum pernah melihatnya bermain sebelumnya," katanya.
Dua Tim, Satu Semangat Bertarung
Meski penuh intrik, Simeone menegaskan rasa hormatnya pada gaya bermain Inggris. "Sepak bola Inggris selalu lebih terbuka, agresif, dan penuh gairah. Kalah atau menang, Anda selalu merasa itu pertarungan yang sesungguhnya," ujarnya. Ia bahkan menunjukkan bekas luka di tulang keringnya akibat tekel Stuart Pearce pada 1991 sebagai bukti kerasnya pertemuan kedua negara.
Rivalitas Inggris vs Argentina bukan sekadar soal skor. Ini tentang kebanggaan, sejarah, dan momen-momen yang membentuk karakter para pemainnya. Dari kartu merah hingga gol indah, setiap detiknya adalah cerita yang terus hidup dalam ingatan penggemar sepak bola dunia.