ACEH — Kementerian Perdagangan melaporkan kinerja ekspor nonmigas pada Juni 2026 membukukan surplus USD 3,04 miliar, cukup untuk mengkompensasi defisit migas yang mencapai USD 3,49 miliar. Secara tahunan, nilai ekspor bulanan tumbuh 8,84 persen menjadi USD 25,46 miliar, dengan kontribusi nonmigas mencapai USD 24,39 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai penguatan ini merefleksikan daya saing produk nasional yang tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global. Pemerintah berkomitmen memperluas akses pasar dan mengoptimalkan perjanjian perdagangan yang ada untuk mendorong pertumbuhan ekspor ke depan.
Industri Pengolahan Mendominasi, Tiongkok Tetap Pasar Utama
Sektor industri pengolahan kembali menjadi tulang punggung ekspor nasional dengan kontribusi 82,02 persen sepanjang Januari–Juni 2026. Sektor ini menjadi satu-satunya yang mencatat pertumbuhan positif, yakni 7,37 persen, sementara sektor pertambangan menyumbang 11,71 persen dan migas 4,43 persen.
Komoditas dengan pertumbuhan ekspor tertinggi meliputi aluminium, nikel, bahan kimia organik, dan tembaga. Dari sisi tujuan, Tiongkok masih menjadi pasar utama, disusul Amerika Serikat dan India. Adapun AS menjadi penyumbang surplus nonmigas terbesar dengan nilai USD 10,44 miliar, diikuti India USD 6,73 miliar dan Filipina USD 4,02 miliar.
Impor Melonjak 34,27 Persen, Bahan Baku Industri Mendominasi
Di sisi impor, nilai pengadaan barang Juni 2026 mencapai USD 25,91 miliar, meningkat 34,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan terbesar terjadi pada kendaraan udara dan bagiannya, garam dan mineral, serta bijih logam. Tiongkok tetap menjadi negara asal impor terbesar, diikuti Jepang dan Australia.
Struktur impor masih didominasi bahan baku/penolong sebesar 71,37 persen, diikuti barang modal 19,94 persen dan barang konsumsi 8,69 persen. Budi Santoso menilai peningkatan ini mencerminkan aktivitas produksi dan investasi dalam negeri yang tengah berekspansi.
"Penguatan ekspor nonmigas menunjukkan daya saing produk Indonesia tetap terjaga. Pemerintah akan terus memperluas akses pasar, meningkatkan promosi dagang, dan mengoptimalkan perjanjian perdagangan untuk mendorong ekspor," ujar Budi Santoso.
Proyeksi Semester II: Pasar Nontradisional Jadi Fokus Baru
Dengan total ekspor Semester I 2026 mencapai USD 140,81 miliar atau tumbuh 4,13 persen, pemerintah optimistis momentum positif berlanjut pada paruh kedua tahun ini. Strategi yang disiapkan meliputi penguatan penetrasi pasar utama sekaligus membuka peluang di pasar nontradisional.
Kendati neraca bulanan sempat defisit, surplus kumulatif semester pertama dinilai sebagai sinyal ketahanan fundamental perdagangan Indonesia. Keseimbangan antara kebutuhan impor industri dan penguatan ekspor akan terus dijaga agar neraca perdagangan tetap sehat hingga akhir tahun.