ACEH — Voyah, anak perusahaan Dongfeng, merilis video penuh berdurasi 2 menit 22 detik yang memperlihatkan proses di balik layar hingga eksekusi sukses manuver loop di dalam terowongan. Yang membuat aksi ini spektakuler adalah bobot kendaraan yang jauh lebih berat dibanding mobil sport Jerman yang menginspirasinya.
Mercedes-Benz SLS AMG yang dipakai Schumacher pada 2010 hanya berbobot sekitar 1.700 kg. Sementara itu, Voyah Passion S versi tertinggi memiliki bobot nyaris 2.500 kg atau hampir 900 kg lebih berat. Perbedaan bobot yang sangat signifikan ini membuat tantangan fisika yang dihadapi jauh lebih rumit.
Menjawab Keraguan Publik soal Keaslian Video Iklan Mercedes
Voyah sengaja menampilkan beberapa sudut kamera berbeda dalam video tersebut, termasuk rekaman tanpa potongan dari luar mobil hingga posisi pengemudi. Hal ini dilakukan untuk menepis keraguan yang selama bertahun-tahun mengiringi video iklan Mercedes-Benz SLS AMG, di mana banyak forum otomotif mempertanyakan keaslian manuver tersebut.
Teks dalam video berbunyi, "16 tahun lalu, sebuah film membuat dinamika berkendara Jerman menjadi legenda. 16 tahun kemudian, Tiongkok menulis babak berikutnya." Perusahaan juga menambahkan pernyataan tegas: "Perbedaannya? Kali ini semuanya nyata. Tanpa efek. Tanpa potongan."
Proses Uji Fisika dan Kegagalan Sebelum Sukses
Untuk memastikan SUV listrik seberat itu bisa melewati loop di dalam terowongan, para insinyur Voyah menggunakan model fisik dan simulasi komputer untuk menguji fisika yang berlaku. Proses ini tidak berjalan mulus dalam sekali percobaan. Car News China melaporkan bahwa beberapa percobaan nyata yang dilakukan tim berakhir dengan kegagalan sebelum akhirnya berhasil.
Dengan perhitungan matematis yang matang dan proses trial and error, Voyah akhirnya berhasil melesatkan Passion S melewati lintasan melingkar di dalam terowongan uji Wuhan. Rekaman utuh dari beberapa sudut yang ditampilkan membuat ruang untuk keraguan menjadi sangat sempit.
Kritik Halus untuk Pabrikan Non-Tiongkok
Voyah tampaknya tidak hanya ingin menunjukkan kemampuan teknis produknya, tetapi juga melontarkan kritik halus kepada pabrikan otomotif global. Video ini hadir di tengah kelangkaan aksi stunt sejajar dari merek-merek non-Tiongkok, yang cenderung lebih fokus pada rekor waktu putaran di sirkuit Nürburgring dibandingkan membuat video aksi yang menghibur.
Keberhasilan ini membuktikan bahwa kendaraan listrik tidak hanya mampu mengejar performa di jalan lurus, tetapi juga bisa diajak melakukan manuver ekstrem yang menuntut presisi tinggi dari sistem kontrol stabilitas dan distribusi torsi.