BANDA ACEH — Sebanyak 11 titik panas terpantau di wilayah Aceh pada Selasa (25/8/2026), tersebar di empat kabupaten berbeda. Temuan ini diperoleh melalui sensor MODIS pada satelit Terra, Aqua, Suomi NPP, dan NOAA-20/VIIRS dengan tingkat kepercayaan deteksi kategori rendah hingga sedang.
Prakirawan BMKG Sultan Iskandar Muda, Betsi, merinci sebaran titik panas tersebut. Wilayah Aceh Tamiang mencatat tiga titik di Kecamatan Bendahara, sementara Aceh Tenggara memiliki tiga titik yang tersebar di Kecamatan Babul Makmur dan Leuser.
Dua Wilayah Ini Paling Banyak Titik Panas
Konsentrasi titik panas terbesar berada di Aceh Utara dengan empat titik, seluruhnya terdeteksi di Kecamatan Langkahan. Sementara itu, satu titik panas lainnya muncul di Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur.
"Terdeteksi pula satu titik panas di Aceh Timur, tepatnya di Kecamatan Indra Makmu," kata Betsi.
Mengapa Hujan Justru Berpotensi Turun?
Kemunculan titik panas ini beriringan dengan kondisi atmosfer yang dinamis. BMKG mencatat adanya pengaruh aktif gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO) secara spasial di wilayah pesisir utara Aceh, yang diperkuat daerah belokan angin dan konvergensi.
Faktor pemicu lainnya adalah suhu muka laut yang hangat di Samudra Hindia sebelah barat dan utara Sumatera. Kondisi ini meningkatkan penguapan, menambah kandungan uap air di atmosfer, dan mendukung pembentukan awan hujan yang signifikan.
Wilayah Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang
BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai angin kencang. Wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Aceh Barat Daya, Aceh Singkil, dan Aceh Tenggara.
Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika terjadi angin kencang.
Gelombang Laut Capai 2,5 Meter, Nelayan Diminta Waspada
Untuk periode 25–28 Agustus 2026, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini gelombang laut. Tinggi gelombang 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di sejumlah perairan Aceh.
Wilayah yang berpotensi terdampak antara lain perairan Sabang-Banda Aceh, Aceh Besar-Meulaboh, Aceh Barat Daya-Simeulue, Aceh Singkil-Pulau Banyak, serta perairan selatan Simeulue. Kondisi ini berpotensi mengganggu keselamatan pelayaran.
Nelayan dan pengguna jasa transportasi laut diimbau memperhatikan perkembangan cuaca sebelum melakukan aktivitas di perairan.