PIDIE JAYA — Dinas Pertanian Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, terus menggenjot rehabilitasi lahan pertanian yang rusak akibat bencana hidrometeorologi tahun lalu. Sebanyak 1.607 hektare sawah dilaporkan tertutup lumpur dan pasir setelah meluapnya Sungai Krueng Meureudu, dan kini tengah dipulihkan secara bertahap.
Plt Kepala Dinas Pertanian Pidie Jaya, M Nur Isga, menyatakan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi dilakukan di sejumlah titik. "Kami terus mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pertanian," ujarnya di Pidie Jaya, Kamis (27/8).
259 Hektare Sawah Rusak Berat, 1.225 Hektare Rusak Ringan
Dari total 8.500 hektare lahan pertanian di Pidie Jaya, bencana tersebut menyebabkan kerusakan dengan tingkat yang bervariasi. Data Dinas Pertanian mencatat 259 hektare mengalami rusak berat, 143 hektare rusak sedang, dan 1.225 hektare lainnya masuk kategori rusak ringan.
Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah kabupaten mengerahkan traktor di sejumlah lokasi, salah satunya di Gampong Beuringen, Kecamatan Meurah Dua. Namun, sejumlah gampong lain seperti Blang Cut, Buangan, dan Dayah Kruet di kecamatan yang sama masih membutuhkan penanganan lanjutan karena kondisinya rusak berat.
"Kondisi di beberapa lokasi masih membutuhkan penanganan lebih lanjut. Terutama lahan yang mengalami kerusakan berat," kata M Nur Isga.
Petani Gagal Panen Dua Musim, Lahan Bekas Lumpur Disulap Jadi Kebun Cabai
Dampak bencana ini sangat dirasakan para petani. Lahan yang tertutup lumpur tebal membuat sawah tidak bisa diolah, sehingga banyak petani gagal tanam hingga dua musim berturut-turut dan kehilangan sumber pendapatan utama.
Sambil menunggu proses pemulihan total selesai, lahan bekas lumpur di sejumlah wilayah mulai disulap menjadi kawasan produktif. Beberapa di antaranya ditanami bawang merah, cabai, dan jagung agar petani tetap memiliki penghasilan.
Bupati Minta Pemulihan Fokus pada Sumber Penghidupan Masyarakat
Bupati Pidie Jaya, Sibral Malasyi, mengapresiasi langkah cepat Dinas Pertanian dalam menangani dampak bencana. Ia menegaskan proses pemulihan pascabencana tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga harus menyentuh pemulihan sumber penghidupan masyarakat.
"Bagaimana lahan pertanian masyarakat kembali produktif dan petani dapat kembali bekerja," kata Sibral.
Ia meminta seluruh jajaran terkait terus melakukan pendataan dan menentukan skala prioritas berdasarkan tingkat kerusakan. Dengan begitu, penanganan lahan terdampak bisa lebih cepat dan tepat sasaran.
"Kami ingin petani kembali ke sawah, kembali berproduksi dan kembali memiliki sumber penghidupan. Percepatan pemulihan pertanian penting untuk Kabupaten Pidie Jaya yang lebih tangguh pascabencana," ujarnya.
Kabupaten Pidie Jaya sendiri merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Pidie yang terbentuk pada 2007. Wilayahnya terletak di pantai Timur Aceh dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Pidie di sebelah selatan dan barat.