LHOKSEUMAWE — Aulia Rizki membuktikan bahwa keterbatasan geografis dan ekonomi bukan penghalang untuk menembus pendidikan tinggi hingga ke luar negeri. Pemuda yang tumbuh di desa pedalaman Lhokseumawe, Aceh, kini menjadi inspirasi bagi ribuan mahasiswa setelah berhasil menyelesaikan program double degree di jenjang magister.
Rizki menempuh pendidikan S2 di dua kampus sekaligus: Universiti Utara Malaysia (UUM) dan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Semua biaya pendidikan, penelitian, hingga kesempatan berjejaring di forum internasional ia peroleh melalui Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dari Kementerian Agama dan beasiswa LPDP.
Lulus S1 dalam 3,5 Tahun dengan IPK 3,87
Sebelum menembus kancah internasional, Rizki sudah menunjukkan performa akademik yang gemilang sejak jenjang sarjana. Ia menyelesaikan studi di Program Studi Pendidikan Bahasa Arab UIN Ar-Raniry hanya dalam waktu 3,5 tahun.
Tak hanya cepat, ia juga dinobatkan sebagai lulusan terbaik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,87. Pencapaian awal ini menjadi fondasi yang membuka jalan bagi kesempatan beasiswa dan studi lanjutnya.
Beasiswa Jadi Kunci Anak Desa Tembus Kampus Malaysia
Rizki mengakui, beasiswa menjadi faktor krusial di tengah kondisi ekonomi keluarganya yang biasa. "Kami hanyalah anak-anak biasa, berasal dari desa yang mungkin tidak ada dalam peta, namun Allah menitipkan kesempatan yang tidak biasa," ujar Rizki dalam keterangan yang dikutip dari laman Kemenag, Kamis (25/6/2026).
Menurut Rizki, dukungan dana dari beasiswa memungkinkannya untuk fokus pada riset dan aktif di ruang akademik internasional. Ia mendorong mahasiswa lain dari latar belakang serupa untuk tidak membatasi mimpi. "Jika enam anak dari keluarga sederhana dapat memperoleh kesempatan tersebut, maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk membatasi mimpinya sendiri. Jika kami bisa, kalian juga, bahkan bisa lebih baik," tegasnya.
20 Publikasi Ilmiah dan Artikel di Jurnal Scopus Q1
Semangat Rizki tidak berhenti pada urusan gelar. Hingga kini, ia telah mempublikasikan 20 karya ilmiah. Tiga di antaranya merupakan artikel yang terbit di jurnal internasional bereputasi Scopus Q1.
Ia juga pernah meraih predikat Best Presenter pada seminar internasional dan aktif menjadi pembicara di sejumlah konferensi nasional serta internasional. Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa dari daerah terpencil Aceh mampu bersaing di level global.