ACEH — Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut capaian ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari strategi adaptif yang dijalankan pemerintah. Pihaknya melakukan pivot pasar, memperkuat promosi ke negara-negara dengan potensi pertumbuhan tinggi, serta menjaga pergerakan wisatawan domestik.
"Pemerintah terus menjalankan strategi yang adaptif, termasuk melakukan pivot atau penyesuaian pasar, memperkuat promosi ke negara-negara yang masih memiliki potensi pertumbuhan," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Pertumbuhan wisman tertinggi berasal dari kawasan Asia lainnya yang naik hampir 10 persen, disusul Asia Tenggara yang tumbuh 8,22 persen dan Oseania 6,60 persen. Dengan laju ini, Indonesia menempati posisi kedua negara dengan pertumbuhan kunjungan wisman tercepat di Asia Tenggara. Belanja Wisman Naik, Defisit Wisata Berbalik Surplus
Kualitas kunjungan juga membaik. Rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan naik 6,36 persen menjadi sekitar 1.313 dolar AS. Sementara itu, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 630,41 juta perjalanan, tumbuh 2,71 persen.
Menariknya, jumlah perjalanan warga negara Indonesia ke luar negeri justru turun 2,40 persen menjadi 4,46 juta perjalanan. Alhasil, Indonesia membukukan surplus kunjungan sebesar 2,99 juta—sebuah sinyal positif bagi neraca jasa perjalanan.
"Keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang, tetapi juga dari besarnya manfaat ekonomi yang mereka tinggalkan bagi masyarakat, pelaku usaha, dan daerah," kata Widiyanti. PMA Tumbuh 37 Persen, Hotel dan Restoran Jadi Kontributor Utama PDB
Dari sisi investasi, penanaman modal asing (PMA) di sektor pariwisata mencapai Rp12,19 triliun atau melonjak 37 persen. Adapun penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat Rp27,48 triliun, tumbuh 9,39 persen.
Tingkat okupansi hotel juga naik 2,48 poin persentase menjadi 48,20 persen. Widiyanti menegaskan investasi ini berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja dan penguatan rantai pasok lokal.
Dampaknya terlihat pada pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 yang mencapai 5,29 persen. Lapangan usaha akomodasi dan makan minum tumbuh 10,60 persen, transportasi dan pergudangan 5,65 persen, serta jasa lainnya 6,36 persen. Secara keseluruhan, sektor terkait pariwisata menyumbang 0,86 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
"Angka-angka tersebut menunjukkan bagaimana perjalanan wisata mampu menggerakkan banyak sektor sekaligus," tegasnya. Candi Prambanan Jadi Etalase Diplomasi Pariwisata ke India
Kementerian Pariwisata terus memperluas pasar nontradisional. Pada Juli 2026, Widiyanti mendampingi Presiden RI dalam kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi, termasuk saat mengunjungi Kompleks Candi Prambanan.
Momen ini dimanfaatkan untuk menggenjot promosi Wonderful Indonesia di pasar India melalui kanal media India. Langkah ini dinilai strategis mengingat India merupakan salah satu pasar dengan pertumbuhan outbound tourism tercepat di dunia.
Dengan kombinasi pertumbuhan wisman yang stabil, belanja yang meningkat, dan investasi yang deras, pariwisata Indonesia diproyeksikan tetap menjadi penopang utama perekonomian nasional hingga akhir tahun.