ACEH — Teknologi RGB mini-LED menjadi sorotan utama industri TV sepanjang 2025-2026. Berbeda dari mini-LED konvensional yang hanya mengandalkan lampu putih, panel RGB memadukan kecerahan khas mini-LED dengan kontras dan hitam pekat ala OLED.
Pengujian ini mempertemukan dua perwakilan teknologi tersebut: Sony Bravia 7 II (kelas menengah) melawan Samsung R95H (flagship dengan Micro RGB). Keduanya diuji bersamaan di lab untuk melihat mana yang layak masuk daftar belanja.
Sebagai gambaran harga, Bravia 7 II 65 inci dibanderol sekitar Rp 45,9 juta, sedangkan R95H ukuran sama mencapai Rp 92,6 juta. Namun, di pasar Amerika Serikat, selisih keduanya hanya sekitar US$400 atau Rp 6,6 juta.
Kecerahan: Samsung Jauh di Atas, Sony Lebih Konsisten
Pengukuran di lab menunjukkan R95H memiliki kecerahan puncak HDR 1.960 nits, hampir dua kali lipat Bravia 7 II yang hanya 1.163 nits. Keunggulan ini terasa jelas saat menonton adegan padang pasir di Lawrence of Arabia, di mana pasir putih dan langit biru tampak lebih hidup di layar Samsung.
Namun, cerita berubah saat mengukur kecerahan layar penuh. Bravia 7 II justru mencatat 830 nits, mengungguli R95H yang hanya 607 nits. Artinya, Sony lebih baik dalam menampilkan area terang yang luas, seperti langit cerah atau latar belakang putih.
Untuk ruangan terang, R95H menjadi pemenang mutlak berkat lapisan anti-silau matte-nya. Pantulan hampir tidak terlihat bahkan saat menonton adegan gelap. Sebaliknya, Bravia 7 II masih menunjukkan pantulan cermin yang cukup mengganggu pada konten berkonstras tinggi.
Warna: Kedalaman Sony vs Kepop Samsung
Perbedaan karakter paling terasa saat memutar The Super Mario Galaxy Movie. Warna di R95H memang lebih terang dan mencolok, tetapi terkadang terlihat "meledak" dan kehilangan detail pada objek terang. Menurunkan tingkat kecerahan dari 50 ke 40 membantu memperbaikinya.
Bravia 7 II justru menampilkan warna dengan kedalaman dan kekayaan yang mengingatkan pada TV OLED. Merah baju Mario, hijau overall Luigi, dan pink gaun Princess Peach terlihat lebih berisi dan akurat. Hal yang sama terjadi pada Speed Racer—warna oranye dan kuning di layar Sony lebih tegas, sementara Samsung mengandalkan kecerahan untuk membuat warna "meledak".
Mode gambar juga memengaruhi hasil. Mode Cinema di Bravia 7 II konsisten menjaga volume warna, sedangkan mode Filmmaker di R95H membuat warna terlihat agak pucat dibanding mode Movie-nya.
Kontras dan Hitam: Saling Menang di Adegan Berbeda
Keduanya sama-sama tangguh saat disodori adegan gelap penuh bayangan seperti di The Batman. Namun, ada perbedaan halus. R95H lebih baik menjaga detail pada objek gelap, seperti tekstur baju zirah Batman, tanpa jatuh ke black crush. Sony sesekali kehilangan detail pada area gelap, tetapi menghasilkan bayangan yang lebih pekat dan tinta.
Hasil berbeda muncul saat memutar Dark City. Di film ini, R95H justru yang mengalami black crush, sementara Bravia 7 II menunjukkan detail bayangan lebih baik. Blooming atau cahaya bocor di sekitar objek terang juga muncul di keduanya, terutama saat dilihat dari sudut miring—Samsung sedikit lebih jelas terlihat.
Untuk konten hitam-putih seperti Dead Man, kecerahan ekstra R95H memberikan rentang dinamis lebih lebar. Adegan siang terlihat lebih bertenaga, meski Bravia 7 II tetap menyuguhkan gradasi abu-abu yang halus.
Kesimpulan: Pilih Sesuai Anggaran dan Prioritas
Di Amerika Serikat, duel ini cukup ketat karena selisih harga tipis. Namun, di Inggris dan Australia, Bravia 7 II jauh lebih murah sehingga menjadi pilihan nilai terbaik.
Jika Anda mengutamakan kecerahan ekstrem, anti-silau terbaik, dan detail bayangan superior, R95H layak dipertimbangkan—terutama bila dana bukan masalah. Sebaliknya, Bravia 7 II menawarkan reproduksi warna lebih kaya dan natural dengan harga lebih bersahabat.
Soal kemampuan menumbangkan OLED, jawabannya belum. Keduanya belum sepenuhnya mengalahkan TV OLED kelas atas seperti LG C6. Namun, Bravia 7 II membuktikan potensi besar RGB dalam hal warna, dan R95H menunjukkan keunggulan teknologi ini untuk kontrol backlight. OLED sebaiknya mulai waspada.